Kebahagiaan Yang Tak Sempurna #PART I

Malam ini hujan turun begitu derass,sehingga atap-atap dan dinding dinding rumahku tak mampu menghalang nya,sampai sampai rumah ku hampir kebanjiran karena atap rumah nya yang sudah mulai bolong bolong,dan dinding dinding nya yang sudah mulai keropos.
Mungkin ini resiko jadi anak orang yang serba pas-pasan.
Ayahku hanya bekerja sebagai kuli bangunan ,itu juga tidak menentu karena ayahku kerja jadi kuli hanya ketika ada orang yang ingin membuat rumah.
Dan ibu ku juga mebantu ayah bekerja sebagai tukang cuci pakaian.
Umur ku sekarang baru 17 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 3 SMA.
Aku s'lalu bersyukur masih bisa sekolah,meskipun rasanya sangat susah.
Aku juga suka berjualan es krim di sekolah,tentu saja itu bukan milik ku,aku hanya menjual eskrim milik tetanggaku,yang sebagian besar dari hasil jualanku itu di berikan kepada pemiliknya,aku hanya mendapatkan upah dari satu eskrim itu 250 perak,dan satu eskrim itu harganya 1000, aku selalu membawa jualanku itu setiap aku berangkat sekolah,sambil berharap dapat terjual habis,karena upahku tergantung dari eskrim yang ku jual,jika aku hanya dapat menjual sedikit,pasti upah yang ku dapat juga lebih sedikit.
Aku menjual eskirm bukan nya aku tidak malu tapi karena kedaan memaksaku,karena selama sekolah aku belum pernah di kasih uang jajan oleh orang tua ku.
Jangankan ngasih jajan,makan aja juga kadang nemu kadang enggak.
Makannya aku berjualan eskrim,supaya aku bisa jajan dan menabungkannya sedikit.
Tidak jarang anak-anak sekolah yang sering menghinaku,mencelaku. Tapi apalah dayaku ,aku hanya bisa terdiam meratapinya,sambil berharap suatu saat nanti aku bisa membeli omongan-omongan oranng yang suka mencela dan menghinaku.

tapi meskipun orang lain hanya menatapku dengan sebelah mata,aku mempunyai dua orang malaikat tanpa sayap,yang sangat-sangat menyangiku.
Iya tentu saja dia ayah dan ibuku.
Ibu dan ayahku selalu menasehatiku agar selalu berbuat baik kepada semua orang, harus s'lalu memberi meskipun yang kita punya tidak banyak.
Mereka s'lalu memberikan semangat ketika ada orang-orang yang menghinaku,mereka sangat yakin bahwa suatu saat nanti aku akan menjadi orang yang sukses,
Mereka s'lalu mendoakanku.
Tapi yang sangat aku sedihkan,ketika dia berbhong jika di rumah nasi cuman ada satu bungkus,dan aku baru pulang sekolah,mereka s'lalu berkata " iyan kamu pasti cape ya,terus kamu pasti lapar,sekarang kamu makan sana ada nasi bungkus di meja,kamu habiskan saja,ibu sama ayah sudah kenyang tadi"
Padahal aku tau sebenarnya mereka pun belum makan.
Aku sering merasa sedih sekali,dan di dalam kesedihan itu aku selalu berpikir,berharap,dan berusaha agar suatu saat aku bisa membbuat mereka bahagia, tidak lagi susah seperti sekarang.

Tanpa terasa minggu besok aku akan melaksanakan ujian nasional.
Dan sedih nya lagi,ayahku sakitnya kambuh,dan sakit nya lumayan parah,karena setauku,ayah mempunya penyakit asma.
Aku bingung sekalih,di sisi lain aku harus menjalankan ujian nasional,tapi di sisi lain lagi aku harus mencari uang untuk berobat ayahku,karena kalau aku tidak membantu ibu siapa lagi.

Aku bingung sekali,hari ini ujian nasioal terakhirku,dan ayah ku penyakit nya semakin parah.
Aku sebenrnya ingin sekali menemani ayahku di saat lagi seperti ini,tapi ayahku malah berkata "sudah iyan kamu sekolah aja yang bner jangan pikiran ayah,kamu harus dapat nilai yang bagus,biar kamu bisa mencapai semua apa yang kamu inginkan,dan menjadi orang yang sukses"

Aku sedih sekali mendangar perkataan itu,akhir nya aku pergi kesekolah dengan jalan yang sangat lambat karena sangat terpuruk sekali.

Dan akhirnya hari pembagian rapotku sudah tiba,aku berangkat kesekolah sendirian tanpa di temani ibu atau ayahku,karena ayah masih sakit dan ibu harus menjaga nya.

Dan tak di sangka aku di sekolah mendapatkan juara pertama,dan aku mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di salah satu kuliah ternama di jakarta.
Aku senang sekali karena harapan ku untuk menjadi orang sukses semakin terbuka lebar.
Aku ingin cepat pulang kerumah dan memberitahukan kabar gembira ini.
Sesampainya di depan rumah aku merasa cemas,kenapa di rumahku banyak orang.
Aku langsung berlari menuju rumahku.
Setelah ku lihat ternyata ayahku sudah terbaring tak bernyawa,aku sedih sekali rasa nya ingin berteriak,aku memeluk ayahku sambil menangis,rasa nya dunia ini tidak adil...di saat tuhan memberikan kebahagian dari prestasiku,kenapa harus di bayar dengan kesedihan atas kematian ayahku.
ibuku ikut menangis,dan mencoba menenangkanku.
Aku hampir tak percaya mengapa semua ini bisa terjadi kepadaku.
Akku hampir saja prustasi atas kematian ayahku itu,tapi aku berpikir,meskipun begini..aku jangan bertindak bodoh,karena masih ada seorang ibu yang harus aku bahagiakan.

Setelah beberapa hari menjalani kesedihan yang amat pedih ini,atas kepergian ayahku itu.
Aku menceritakan kabar baik yang mendapat beasiswa kepada ibuku,sekalian aku meminta izin kepada ibuku.
Dan tentu saja ibuku sangat menyutujuinya,ibuku sangat mendukung....walaupun aku tau, ibuku tidak mempunyai uang untuk bekal ku.
Waktu itu aku berangkat ke jakarta sore hari,dan aku sudah menyiapkan kebutuhan ku seadanya..
Waktu itu ibu ku memanggilku dan dia menasahtiku sebelum aku berangkat.
"Rian kamu jaga diri kamu baik-baik ya,ibu akan s'lalu mendoakanmu,kamu harus gapai semua yang kamu inginkan,ini ada uang buat bekal kamu,meskipun tidak seberapa,kamu harus bisa menggunakan sebaik-baiknya,dan kamu juga harus berusaha mencari uang sendiri di sana,karena ibu tidak bisa selalu memberikanmu uang jajan untukmu,ibu minta maaf jika selama ini belum bisa menuruti apa semua yang kamu inginkan."

Sebenarnya aku sangat sedih ketika aku menerima uang dari ibuku,bukan karena uang nya sedikit,tapi karena aku tau ibuku menjual kalung satu satunya yang pemberian dari ayah waktu mereka menikah dulu.
Tapi mau apalagi aku juga membutuhkan nya,sebelum aku dapat kerjaan sampingan.

Aku pamitan sama ibu ku,rasa sedih sekali baru saja kemarin di tinggalkan sama ayah,sekarang aku harus ninggalin ibu,mesikupin ini demi kesuksesanku juga...

Postingan terkait:

Belum ada tanggapan untuk "Kebahagiaan Yang Tak Sempurna #PART I"

Posting Komentar